Kamis, 03 April 2008

AYAH


Ayah, bagaimana keadaanmu sekarang?
Adakah kau berada ditaman wardah
Yang indah dihias gemercik air mengalir dibawahnya?
Dan bila malam menjelang semua bintang jadi lentera?
Pada sebuah kehidupan yang kau jalani kekal dan menyenangkan?

Dulu, kau selalu tersenyum memandangku
Kuharap sekarang kau masih tersenyum seperti dulu
Saat ku kecil, kau selalu memanjakanku
Kuharap kau senang dengan keadaan barumu
Tak pernah bosan aku datang dengan doa-doa

Ayah, kau begitu bijaksana
Jerih payah dan cucur keringatmu sangat berharga
Redup tatap matamu pancarkan wibawa
Senyum kasihmu hilangkan gundah
Engkau adalah semangatku menjelma dalam jiwa
Tak pernah terputus kurasa

Waktu begitu cepat berlari meninggalkan sederetan cerita
Ketika sakit yang kau derita sangat menyiksa
Tak pernah sedikit kau merintih dengan takdir
Kau berusaha menahan rasa perih bagai berjuang
Kurasakan dari kuat erat jemari penuh sayang
yang selalu membelaiku saat kecil
Tiba kau pergi karena Sang Khaliq lebih menyayangmu
Kau tak pernah bosan mengajarkan tentang kehidupan, kesabaran juga ketulusan
Kau panutan dari anak-anakmu
Diakhir sebelum kau pergi kau tanya pada bungsu kecil cantik kesayanganmu
Kutahu ia tak pernah dapat berpisah denganmu
Jangankan untuk selamanya!
Beberapa hari saja kau pergi, sikecil tak mendengar suaramu
Pastikan ia demam dan panas
Begitu pula ketika ia hendak tidur, pastikan kau ada di sampingnya
Engkau sangat sayang sekali padanya
Selain bungsu, ia terlihat manja dan penurut ikatan batin denganmu
Begitu erat dengan penuh sayang kau ucap padanya, sebentar lagi akan pergi!
Sikecilpun belum mengerti makna tersirat yang kau ucapkan
Hanya jawaban dengan tatapan mata mendalam terhadapmu!
Tak pernah terbayang dibenaknya arti akan perpisahan
Walau nafas terakhir kau bembuskan dengan senyuman
Betapa banyak handak taulan menjenguk saat sakitmu
Lebih banyak lagi datang ketika Allah memanggilmu
Kutahu engkau begitu berharga dimata mereka
Kutahu kau sangat dermawan terhadap orang lain
Sumbangsih dan nasehat yang kau berikan dengan prilaku indah itu
Sekarang engkau telah pergi
Namun, nama dan amal baikmu tetap hidup
Ayah, kau yang paling kuhormati sosok berwibawa dan sabar menghadapi semua cobaan
gigih berjuang untuk kejayaan anak-anakmu
tekun mengajar akan arti kejujuran
engkau begitu teguh dan tegar menjalani hidup
tak pernah menyerah dalam berusaha selalu berbaik sangka pada semua
Kupohon, maafkan aku Ayah
Maafkan semua dosa dan kesalahanku selama ini
Pengabdianku belumlah cukup membuatmu bahagia
Terlebih tak berada disisimu saat itu
Engkau amanahkan harus kembali menuntut ilmu
Saat kau tegaskan harus pulang membawa cahaya menerangi sanak saudara
Terpatri dalam benak sanubari dan jiwaku
‘Anakmu harus berhasil dan kembali menjadi pelita’ Ayah,
Kalimat itu masih hangat dalam ingatanku
Maafkan semua salah yang pernah ada
Maafkan bila belum dapat mewujudkan harapanmu
Percayalah! Anakmu selalu datang dengan doa pengharapan
Aku berjanji menjadi yang terbaik untuk keluarga dan semua
Didikanmu adalah awal dari keberhasilan yang kuraih
Selamat jalan Ayah, semoga kau di sana lebih baik dan digolongkan orang orang yang beriman
Dekapku dalam doa tulus untukmu disisi-Nya

ketakutan

Diriwayatkan bahwa para malaikat yang menyangga 'Arsy, ada yang matanya menangis seperti aliran sungai. Jika malaikat itu menengadahkan kepalanya, maka dia berkata, "Maha Suci Engkau, tidak ada yang layak ditakuti kecuali menurut hak ketakutan kepada-Mu". Allah berfirman: "Tetapi orang-orang yang bersumpah atas nama-Ku justru berbuat dusta, dan mereka tidak mengetahui hal ini".

Allah berfirman, yang artinya:
"Mereka takut kepada Rabb mereka yang berkuasa atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)". (An Nahl: 50)

Nabi shallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya Allah mempunyai para malaikat yang urat-urat leher mereka gemetar karena takut kepada-Nya."

Dari Jabir rodhiallahu 'Anhu, dia berkata, "Rasulullah sholallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Pada malam aku melakukan isra', aku melihat Jibril seperti geriba yang basah kuyup karena takut kepada Allah."

Diriwayatkan bahwa Jibril 'alaihissalam mendatangi Rasulullah sholallahu 'alaihi wasallam sambil menangis. Beliau bertanya "Apa yang membuat engkau menangis?" Jibril 'alaihissalam menjawab, "Mataku tidak pernah berhenti menangis semenjak Allah menciptakan neraka Jahannam, karena aku takut akan mendurhakai- Nya, lalu Dia akan melemparkan aku kedalamnya".

Dari Yazid Ar-Ruqasyi, dia berkata, "Sesungguhnya Allah mempunyai para malaikat yang berada disekitar 'Arsy. Mata mereka menangis layaknya sungai hingga hari kiamat tiba. Mereka bergetar seakan diguncang angin karena takut kepada Allah." Allah berfirman "Wahai para malaikat-Ku apa yang membuat kalian takut sementara kalian ada disisi-Ku", para malaikat menjawab "Ya Rabbi, andaikata penghuni bumi melihat kemuliaan dan keagungan Engkau seperti yang kami lihat ini tentu mereka tidak sanggup makan dan minum, tidak sanggup tidur, lalu mereka keluar ke tengah padang pasir untuk menguak di sana seperti sapi yang menguak.

Muhammad bin Al-Munkadir berkata "Tatkala neraka diciptakan maka jantung para malaikat lepas dari tempatnya. Lalu tatkala Adam diciptakan jantung mereka pun kembalio ketempatnya semula.Dan jika malaikat saja takut, karena Allah SWT telah menciptakan neraka...... ... bagaimana dengan kita ............ .....

Renungan...

Sayang Dari ALLAH SWT


Saat kau bangun pagi hari, AKU memandangmu dan
berharap engkau akan berbicara kepada KU,
walaupun hanya sepatah kata meminta pendapatKU atau bersyukur
kepada KU atas sesuatu hal yang indah yang terjadi
dalam hidupmu hari ini atau kemarin .......
Tetapi AKU melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan
diri untuk pergi bekerja ........
AKU kembali menanti saat engkau sedang bersiap,
AKU tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti
dan menyapaKU, tetapi engkau terlalu sibuk .........
Disatu tempat, engkau duduk disebuah kursi selama
lima belas menit tanpa melakukan apapun.
Kemudian AKU Melihat engkau menggeerakkan kakimu.
AKU berfikir engkau akan berbicara kepadaKU tetapi engkau berlari
ke telephone dan menghubungi seorang teman untuk
mendengarkan kabar terbaru.
AKU melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan AKU
menanti dengan sabar sepanjang hari.
Dengan semua kegiatanmu AKU berfikir engkau terlalu sibuk
mengucapkan sesuatu kepadaKU.
Sebelum makan siang AKU melihatmu memandang sekeliling,
mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepadaKU,
itulah sebabnya mengapa engkau tidak menundukkan kepalamu.
Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan
melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut
namaKU dengan lembut sebelum menyantap rizki yang AKU berikan,
tetapi engkau tidak melakukannya ........
masih ada waktu yang tersisa dan AKU berharap engkau akan berbicara kepadaKU,
meskipun saat engkau pulang kerumah kelihatannya seakan-akan
banyak hal yang harus kau kerjakan.
Setelah tugasmu selesai, engkau menyalakan TV,
engkau menghabiskan banyak waktu setiap hari didepannya,
tanpa memikirkan apapun dan hanya menikmati acara yg ditampilkan.
Kembali AKU menanti dengan sabar saat
engkau menonton TV dan menikmati makananmu tetapi
kembali kau tidak berbicara kepadaKU ..........
Saat tidur, KU pikir kau merasa terlalu lelah.
Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu,
kau melompat ketempat tidur dan tertidur tanpa
sepatahpun namaKU, kau sebut.
Engkau menyadari bahwa AKU selalu hadir untukmu.
AKU telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari.
AKU bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain.
AKU sangat menyayangimu, setiap hari AKU menantikan
sepatah kata, do'a, pikiran atau syukur dari hatimu.
Keesokan harinya ...... engkau bangun kembali dan
kembali AKU menanti dengan penuh kasih bahwa hari
ini kau akan memberiku sedikit waktu untuk menyapaKU ........
Tapi yang KU tunggu ........ tak kunjung tiba ......
tak juga kau menyapaKU.
Subuh ........ Dzuhur ....... Ashyar ...........
Magrib ......... Isya dan Subuh kembali, kau masih
mengacuhkan AKU .....
tak ada sepatah kata, tak ada seucap do'a, dan tak
ada rasa, tak ada harapan dan keinginan untuk
bersujud kepadaKU ...........
Apa salahKU padamu ...... wahai UmmatKU?????
Rizki yang KU limpahkan, kesehatan yang KU berikan,
harta yang KU relakan, makanan yang KU hidangkan, anak-anak yang
KUrahmatkan, apakah hal itu tidak membuatmu ingat
kepadaKU ............ .!!!!!!!
Percayalah AKU selalu mengasihimu, dan AKU tetap
berharap suatu saat engkau akan menyapa KU, memohon
perlindungan KU, bersujud menghadap KU ....... Yang
selalu menyertaimu setiap saat .........